Kamis, 04 Juli 2019

Epistoholik, Bisakah Memacu Sukses Anda Berburu Pekerjaan? (1)  

Oleh : Bambang Haryanto

Epistoholik. Anda pernah mendengar sebutan ini? Inilah sebutan kebanggaan untuk orang-orang yang kecanduan berat menulis surat-surat pembaca di media massa. 

Sebutan itu pertama kali diberikan  majalah TIME (6/4/1992) kepada Anthony Parakal (foto), pensiunan klerk perusahaan kereta api di Mumbai, India, yang menulis surat-surat pembaca sejak tahun 1955. Setiap hari. Untuk itu namanya tercatat dalam buku rekor Guiness. 

Di era masa kini ketika segalanya harus dinilai dengan uang, maka menulis di media massa yang tidak ada honornya mudah menjadi bahan ejekan. Manfaatnya memang tersembunyi. 

Kita coba ungkap satu demi satu. 

Apabila Anda sebagai seorang pemburu kerja dan terjun sebagai epistoholik, apa berkah awal  yang Anda reguk? Dengan menulis surat-surat pembaca,  Anda telah berlatih mengasah keterampilan menulis Anda. 

Harap dicamkan : Keterampilan menulis, atau keterampilan menuangkan gagasan ke dalam bahasa, adalah soft skill atau transferable skill yang dibutuhkan oleh pekerjaan apa pun. 

Apalagi keterampilan itu semakin penting di era medsos saat ini. Bukankah Anda harus berusaha eksis di antara miliaran penduduk  dunia yang bersaing memperebutkan atensi di dunia nyata dan dunia maya ini? 

Ada pendapat ? 

Senin, 17 Juni 2019

Ketika Surat Lamaran Menjadi Andalan Anda Berburu Pekerjaan

























Foto ini saya unggah di akun Linkedin saya dan mendapatkan beberapa komentar. Komentar pendek dan panjang yang muncul antara lain :

Aduh....bikin pusing...
Baper nih...
Korban sinetron 
Medeni rek

Ngeri ancamannya, haha
Terlalu berani 😁😁

Jenner Manulang : Sdh sampai seperti ini pun luapan emosinya para jobseekers, tp msh aja ada oknum2 yg asyik dgn aksi tipu menipu loker..hmm dmn sdh rasa perike-amplop-an eh rasa perike-manusia-an..?

Balasan saya (Bambang Haryanto/BHBetul sekali, Jenner Manulang. Karena di luaran sana adanya oknum-oknum jahat di luar kontrol kita, maka pemburu kerja haruslah bersikap waspada terhadap hal-hal yang dirasa tidak wajar ketika berinteraksi dengan fihak-fihak yang mencurigakan.


Yang ngelamar bergantung sama manusia, bukan sama Allah...jadi numpahinnya ke rekruter.... 

Slamet Widodo : Mari kita buat jawaban surat ini 
.
Balasan saya (Bambang Haryanto/BH) :  Keren, bro Slamet Widodo. Dinanti ya. Saya kira para pemburu kerja juga ingin memperoleh cerita dan duduk perkaranya dari kalangan HRD terkait "protes" di atas.

Heru Listianto ikut menjawab : Kalo perkara kenapa tidak diterima kerja sepertinya sudah sering dibahas bapak ibu recruiter deh pak Bambang Haryanto. Misalnya ibu MILKA SANTOSO bahkan dikasih tips juga

Avantara Budi Prasetyo : Nah.... saya juga menunggu jawaban surat pihak terkait nih, jadi inget lagu2 indonesia jaman baheula. Pasti kalo lagunya laris dan duduk di anak tangga teratas maka.... ndak lama setelahnya muncul lagu jawaban dari lagi itu. xilenials_gen 

Balasan saya : : Seorang headhunter, Warren Rosaluk, bercerita bahwa banyak alasan untuk menolak surat lamaran. Tidak ada patokan yang baku. Antara satu rekruiter dengan yang lainnya bisa berbeda. Ini sebuah art. 

Namun yang pasti, mengingat banyaknya surat-surat lamaran yang harus diseleksi, membuat pola pikir rekruiter condong kepada pilihan bahwa "harus ada BANYAK lamaran yang terpaksa harus disingkirkan." 

Merujuk realitas yang brutal ini telah membuat Pak Rosaluk menyarankan agar pemburu kerja untuk tidak mengandalkan surat lamaran/cv sebagai SATU-SATU-nya cara untuk berburu pekerjaan.
 
Avantara Budi Prasetyo : Terima kasih buat pencerahannya pa Bambang Haryanto tapi saya jadi tergelitik untuk tau cara berburu pekerjaan yg tidak mengandalkan Lamaran/CV - asumsinya buat fresh graduate dan 1-2 th pengalaman kerja.  terima kasih, matursuwun lagi buat tanggapannya pak.

Balasan BH : Menurut kajian, lowongan yang diiklankan itu hanya 15%. Sisanya tersembunyi. Sedang peluang sukses berburu pekerjaan sebesar 80% adalah lewat koneksi dan referal. 

Mengapa harus berjubelan bersaing berebut porsi roti yang sedikit, sementara tersedia roti dan peluang yang jauh lebih besar? 

Tapi ya, berkoneksi itu tidak semudah kita meniru template sebuah CV dan lalu meng-emailkannya ke perusahaan sasaran. Jangan lupa, situs Linkedin dibangun oleh Reid Hoffman untuk pemburu kerja agar berjejaring, bukan?

Avantara Budi Prasetyo : Salim pa Bambang Haryanto 🙏🏻 Terima kasih, lbh jelas dan konkret deh sekarang. eraindustri40, maksimalkan networking di linkedin slah satunya 👍🏻👍🏻

Balasan BH : Sama-sama mas Aviantara Budi Prasetyo. Dulu sempat tanya-tanya dalam hati, di buku Anda sudahkah ada bahasan mengenai LinkedIn sebagai booster karier seseorang?

 

Sabtu, 15 Juni 2019

CV Anda Jangan Menjadi Sampah Digital

 Oleh : Bambang Haryanto

Pemburu kerja masa kini dimanjakan pelbagai kemudahan berkat revolusi digital yang terjadi.

Di masa lalu ketika media masih berbasis atom (minjam istilahnya Nicholas Negroponte) atau  kertas, berburu pekerjaan tidak semudah di era kini dimana kita tinggal meng-klik tombol untuk mengirimkan surat lamaran. 

Kemudahan itu menerbitkan efek samping. Kini setiap lowongan apa pun akan dibanjiri ratusan bahkan ribuan email lamaran. 

Secara teknologi tidak menjadi masalah, tetapi karena CV-CV itu harus diseleksi oleh tenaga manusia maka kuantitas itu akan menguras bandwidth atensi petugas rekruitmen. Human error pun mudah terjadi. 

Akibat fatalnya, Anda sebagai pelamar berkualitas bisa saja terkubur dan tidak lolos dalam proses seleksi. Apalagi kajian menunjukkan hanya 6 sd 30 detik saja seseorang rekruiter memilih CV yang bisa lolos ke tahap berikutnya. 

Solusi secara teknologi adalah robot Applicant Tracking System (ATS). Solusi dari Anda: sebelum mengirimkan CV kenali secara pasti Anda mencocoki scr profesional dgn lowongan yg Anda  lamar.

Lakukan self-assessments secara serius. Sehingga CV Anda tidak menjadi sampah digital yang bisa menerbitkan komplikasi merugikan Anda sendiri, pemburu kerja lain,dan proses rekruitmen secara keseluruhan.

Senin, 21 Januari 2019

Ayu Utami : Bahasa Jelek

Kompas, 21 Januari 2019 : 24

Sumber foto: Kompas, Senin, 21 Januari 2019 : 24


Penulis novel Ayu Utami beranggapan menulis jadi salah satu cara berkomunikasi. Perempuan kelahiran Bogor, 21 November 1968 itu, selalu menyisipkan pesan dan peristiwa tertentu dalam karyanya. Sebagaimana novel Saman, karyanya memuat kisah tentang ketidakadilan pada era Presiden Soeharto.

Namun, Ayu prihatin kualitas tulisan generasi muda, terutama murid yang ikut dalam kelas menulisnya, semakin jelek. “Dari tahun ke tahun, saya semakin banyak menemukan orang makin jelek tulisannya. Tata bahasanya jelek, logika kalimatnya tidak nyambung dan tidak bisa membuat tulisan runtut,” ujar Ayu di Jakarta, Rabu (16/1/2019) malam.

Menurut dia, fenomena ini disebabkan banyaknya anak-anak muda yang terpapar bahasa jelek di media sosial. Untuk itu, cara yang paling mudah mempelajari bahasa yang benar adalah membaca karya tulisan yang mendapat penghargaan.

Kini, ia sedang menyiapkan karya terbarunya, yaitu Anatomi Rasa, yang akan terbit Februari2019. Buku ini memuat pemikiranyang seolah ditulis oleh Parang jati, tokoh utama dalam novel Bilangan Fu. “Ini adalah teorisasi dari konsep rasa yang sangat penting dalam seni dan kebatinan Jawa,” jelasnya.

Novel itu akan menjadi karya pertama Ayu Utami yang berisikan unsur puisi bahasa Jawa dalam bentuk pangkur dan sinom. Karena itu, ia banyak mempelajari karya dari Mangkunagara IV dan Ranggawarsita. (E16).

Sumber : Kompas, Senin, 21 Januari 2019 : 24

Jumat, 04 Januari 2019

Berburu Pekerjaan Adalah Aksi Pemasaran

Oleh : Bambang Haryanto

Anda sedang menyopir di jalan dan mobil Anda dihentikan oleh polisi. Anda merasa tidak bersalah.  Anda pun kemudian mencoba berbicara agar Anda tidak mendapat tilang dari polisi tersebut.

Oleh Seth Godin, pakar pemasaran digital, usaha Anda itu disebutnya Anda sedang melakukan pemasaran.

Jika Anda membujuk seseorang untuk mengambil sesuatu tindakan, Anda sedang melakukan pemasaran. Jika Anda mencari suara di rapat dewan kota, atau mencari promosi, Anda melakukan pemasaran. Jika Anda menulis cerita di situs web Anda, mengambil foto selfie untuk profil media sosial Anda,  Anda melakukan pemasaran.

Pemasaran, katanya,  melampaui periklanan, email penawaran atau cara Anda menentukan harga. Bahkan, sebagian besar waktu, pemasaran sering kali tidak ada hubungannya sama sekali dengan uang.

Kita selalu dikelilingi oleh orang-orang yang membutuhkan perhatian kita, sedikit kepercayaan kita dan beberapa tindakan kita. Orang-orang itu memasarkan kepada kita, dan membantu mengetahui apa yang mereka lakukan dengan benar (dan salah).

Jika seseorang berkata, "Saya tidak melakukan pemasaran," mereka mungkin berarti, "Saya tidak menghabiskan uang untuk iklan." Itu adalah hal yang sangat berbeda.

Budaya kita didorong, lebih dari sebelumnya, oleh pemasar. Tautan yang kami klik, acara yang kami tonton, orang-orang yang kami pilih — semuanya adalah artefak pemasaran. Jika Anda tidak menyukai situasi politik, Anda mengomentari situasi pemasaran.

Begitu kita bertanggung jawab atas pemasaran yang kita lakukan dan pemasaran yang dilakukan kepada kita, kita memiliki kesempatan untuk membuat segalanya menjadi lebih baik (dengan membuat hal-hal yang lebih baik).

Ketika Anda sedang menulis surat lamaran, menyampaikan elevator pitch dalam job fair, berjejaring dalam acara pameran industri, mengomentari status seseorang rekruiter di Linkedin sampai menghadapi tes wawancara, Anda sedang melakukan pemasaran. Boleh jadi hidup Anda dan masa depan Anda tergantung kepada hasilnya.

#pemasarandiri
#berburupekerjaan
#berjejaring
#koneksiitukunci
#melamarpekerjaan

Selasa, 25 Desember 2018

Anda Mengemis Pekerjaan ? Untuk Mencari Kepastian Robeklah Surat Lamaran Anda Menjadi Dua Bagian !

Oleh : Bambang Haryanto



Sepuluh ribu kali. Kalau Anda membaca bukunya Les Giblin, Skill With People (2001)  dan The Art of Dealing With People (2001), Anda akan menemui cerita menarik tentang angka itu. Cerita dan nasehat Les Giblin itu  akan membuka wawasan Anda. Yakni tentang cara untuk berhasil dalam bergaul dengan orang lain guna meraih sukses Anda dalam kehidupan.

Sepuluh ribu kali. Itulah angka yang disebut oleh Les Giblin tentang bagaimana seseorang itu pada kodratnya lebih menyukai dirinya sendiri, ya benar sejumlah sepuluh ribu kali,  daripada menyukai orang lain.

Sehingga Anda sebagai pencari kerja sebaiknya juga harus tahu filosofi  yang sama berlaku juga pada perusahaan. Perusahaan tersebut ketika memasang iklan-iklan lowongan pekerjaan di koran-koran, perusahaan itu  mengharapkan pelamar yang mau dan mampu menjawab kebutuhan mereka.  Ternyata tidaklah mudah.

Nick Corcodilos, seorang headhunter atau perekrut eksekutif, dalam situsnya  Ask the Headhunter, mengeluh.  Saya tidak suka membaca surat-surat  lamaran. Karena terlalu penuh dengan informasi yang tidak relevan,” katanya.  Padahal, “hanya ada satu hal yang perlu saya ketahui dari surat lamaran itu: Apakah pelamar bersangkutan mampu  menyelesaikan masalah saya?

Nasib 6 detik. Dia mengharapkan,  jawaban penting  atas pertanyaan itu dapat diberikan oleh si pelamar secara meyakinkan hanya dalam beberapa kata. Tetapi, di mana dalam surat lamaran itu si pelamar  harus memberikan informasi kunci itu? Ingatlah bahwa manajer biasanya menyediakan waktu hanya sekitar 6 detik untuk membaca surat lamaran Anda. Ya, hanya 6 detik. Itulah waktu untuk Anda dalam menjawab pertanyaannya,” tambahnya.

Dia pun memberikan nasehat. “Cobalah robek surat lamaran Anda itu menjadi dua bagian. Lihatlah bagian atas. Jika setengah halaman itu tidak menyelesaikan masalah manajer perekrutan, surat lamaran itu hanya menjadi sampah karena dia tidak akan membacanya lebih jauh.

Bila surat lamaran Anda akhirnya hanya bernasib sebagai sampah, suka atau tidak suka, itu mencerminkan  pola pikir Anda  yang masih salah besar. Karena Anda semata sebagai pengemis pekerjaan, sementara perusahaan mengharapkan Anda sebagai pemecah persoalan mereka.

Begitulah, ada banyak alasan mengapa Anda harus merobek surat lamaran Anda menjadi dua. Cerita di atas adalah salah satunya.